Mendadak saja saya rindu artikel-artikel Angry. Lama tidak menguncungi halaman Soccer, maka saya pun kurang tahu eksistensi Angry di kolom injury time. Simpel, korelasi refrensi dan topik yang kuat, relfeksi yang metropolis, hanya tiga penilaian itu yang sering saya acungkan untuknya. (Tiga penilaian yang lebih dari cukup bagi saya untuk “cinta mati” sama setiap tulisannya.)
Saya yang rindu artikel Angry, mendadak juga ingat salah satu betis yang mulus, yang seksi, yang pernah saya hubung-hubungkan dengan aktivitas ngasong koran pagi hari.
Baik, hari ini saya memang lagi kerasukan ruh Max Morden: tiba-tiba saja kecanduan memori-memori masa lalu…. Dan di bawah ini saya akan mencoba mendaur ulang artikel lama yang apabila diingat, selalu menarik senyum manis saya—(manis?).
Dalam hidup ini, saya tidak pernah berniat merampas impian seorang teman. Ada teman yang bermimpi menjadi presiden, kondektur, dosen, atau tukang potong rambut salon remang-remang pun, tak akan saya iri. Lain lagi bila ada seorang teman berucap dengan sangat yakinnya, “Mas, saya ingin mati!” Barulah saya ‘iri’, kemudian saya cegah dia untuk meraih impianya.
“Saya pengin jadi loper koran,” tutur sahabat saya, menceritakan keinginannya di kemudian hari.
“Oke, silakan Sahabat!” saya membatin.
Cita-cita sahabat saya itu—tanpa ada tujuan mengingatnya—ternyata terus saja mengendap di ingatan saya. Hingga akhirnya, cita-cita yang terkesan rendah, dan tak pernah saya iri itu, menjadi milik saya. Kamis, 07 Agustus 2008, tepat sehari setelah kedatangan saya ke jogja, saya resmi dilantik. Tertulis nama: Naqib Najah, pekerjaan: pengasong Koran, lokasi: SMA Muhamadiyah Tujuh.
Saya tidak shock, justru saya membatin dan berbisik kepada Tuhan, “Bukankah hal demikian ini yang biasa iseng-iseng saya imajinasikan. Kenapa imajinasi yang iseng harus ditransfer jadi kenyataan?”
Namun, saya salah bila terlalu mengutuk profesi ini. Sebab, dari pekerjaan saya sebagai peneriak, “Koran-koran” inilah, saya memperoleh sajian sarapan yang mewah. Benar-benar mewah: betis, yang putih, yang indah, yang disayang oleh pemiliknya.
“Sarapan yang mewah,” lirih saya. Memang! Selain siap saji, siap untuk dinikmati, siap pula untuk diimajinasikan.
Barangakali, betis itulah yang menghipnotis saya untuk betah berangkat pagi-pagi, meneriakkan, “Koran-koran!” seraya mengharap gadis yang berboncengan dengan gaya lelaki itu datang lagi.
Dua tahun sudah saya tidak lagi melihat betis itu. Mungkin si pemiliknya sudah tidak lagi berangkat pagi-pagi, sebab dia sudah tidak lagi duduk di bangku SMA, dan beralih jadi mahasiswa. Mungkin….
Angry, dalam sebuah artikel yang menghubungkan camebacknya Shevchenco ke AC Milan, sempat menyiratkan, “Tak banyak orang yang mendapatkan izin untuk menikmati kesempatan masa silam.” Nah, dari artikel tersebut mendadak saja saya takut, kalau-kalau hari ini saya tidak diizinkan lagi oleh Tuhan untuk memiliki hati yang penuh syukur seperti masa-masa di perempatan lampu merah dulu.
Maka hari ini, saya sangat berterima kasih kepada Angry dan betis gadis SMA. Kalian berdua telah memberikan PR bagi saya untuk menimbang, “Apakah benar—saat ini—hatimu tak sesyukur dua tahun silam?”